Kado Malam Pertama

 

Mengambil Manfaat dari Kisah Pernikahan Syuraih al Qadhi

Duhai, adinda. Bukanlah aku seorang ahli ilmu atau orang berharta. Tak mampu menuliskan untukmu walau hanya sebuah kitab yang kecil saja. Atau sebuah kunci kotak berisi harta dan perhiasan. Hanya bingkisan kisah ini yang dapat kuberikan padamu sebagai hadiah di malam pertama. Perhatikanlah, akan banyak manfaat yang bisa dipetik sebagai pelajaran bagi kita.

Dan demikianlah yang telah diceritakan oleh Syuraih al Qadhi kepada Asy Sya’bi. “Selama 20 tahun aku tidak melihat sesuatu yang membuatku marah terhadap istriku. Sejak malam pertama aku bersua dengan istriku, aku melihat padanya kecantikan yang mengoda dan kecantikan yang langka. Aku berkata dalam hatiku: Aku akan bersuci dan shalat dua rakaat sebagai tanda syukur kepada Allah. Ketika aku salam dan mendapati istriku menunaikan shalat dengan shalatku, dan salam dengan salamku. Maka ketika rumahku telah sepi dari para sahabat dan rekan-rekan, maka aku berdiri kepadanya.

Aku ulurkan tanganku kepadanya, maka dia berkata, ‘Perlahan wahai Abu Umayyah (nama kunyah Syuraih al Qadhi, pen), seperti keadaanmu semula. Segala puji bagi Allah. Aku memuji-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya. Aku sampaikan shalawat dan salam atas Muhammad dan keluarganya. Sesungguhnya aku adalah wanita asing yang tidak mengetahui akhlakmu, maka jelaskanlah kepadaku apa yang engkau sukai sehingga aku akan melakukannya dan apa yang tidak engkau sukai sehingga aku meninggalkannya.’

Ia melanjutkan, ’Sesungguhnya pada kaummu terdapat wanita yang dapat engkau nikahi, dan pada kaumku terdapat pria yang sekufu denganku. Tetapi jika Allah menentukan suatu perkara, maka perkara itu terjadi. Engkau telah berkuasa, maka lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, yaitu menahan dengan yang ma’ruf atau mencerai dengan cara yang baik. Aku ucapkan sampai di sini saja, dan aku memohon ampun kepada Allah untukku dan untukmu….!’

Demi Allah wahai Asy Sya’bi, ia membuatku membutuhkan khutbah di tempat tersebut. Aku katakan, ‘Segala puji bagi Allah. Aku memuji-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya. Aku sampaikan shalawat dan salam atas Nabi dan keluarganya. Sesungguhnya engkau mengatakan sesuatu pembicaraan yang apabila engkau teguh di atasnya, maka itu akan menjadi keberuntunganmu. Dan jika engkau meninggalkannya, maka itu menjadi hujjah (keburukan) atasmu. Aku menyukai demikian dan demikian, dan aku tidak menyukai demikian dan demikian. Apa yang engkau lihat baik maka sebarkanlah, dan apa yang engkau lihat buruk maka tutupilah!’

Ia mengatakan, ‘Bagaimana kesukaanmu dalam mengunjungi keluargaku?’ Aku menjawab, ‘Aku tidak ingin mertuaku membuatku penat.’ Ia bertanya, ‘Siapa yang engkau sukai dari para tetanggamu untuk masuk ke rumahmu sehingga aku mengizinkannya, dan siapa yang tidak engkau sukai sehingga aku tidak mengizinkannya masuk?’ Aku mengatakan, ‘Bani fulan adalah kaum yang shalih dan Bani fulan adalah kaum yang buruk.’

Kemudian aku bermalam bersamanya pada malam yang sangat nikmat (baik). Aku hidup bersamanya selama setahun dan aku tidak melihat melainkan sesuatu yang aku sukai. Ketika awal tahun aku datang dari majelis Qadha’ (peradilan), tiba-tiba ada seorang wanita di dalam rumah. Aku bertanya, ‘Siapa dia?’ Mereka menjawab, ‘Mertuamu (yakni ibu dari istrimu).’ Ia menoleh kepadaku dan bertanya kepadaku, ‘Bagaimana pendapatmu tentang istrimu?’ Aku menjawab, ‘Sebaik-baik istri.’ Ia mengatakan, ‘Wahai Abu Umayyah, wanita itu tidak akan menjadi lebih buruk keadaannya darinya dalam dua keadaan: jika melahirkan anak atau dimuliakan di sisi suaminya. Demi Allah, laki-laki tidak akan menemui di rumahnya yang lebih buruk daripada wanita yang manja. Oleh karena itu, hukumklah dengan hukuman yang engkau suka, dan didiklah dengan didikan yang engkau suka.’

Lalu aku tinggal bersamanya selama 20 tahun dan aku tidak pernah menghukumnya mengenai sesuatu pun kecuali sekali, dan aku merasa telah menzhaliminya.”

Dikutip dari: Panduan Lengkap Nikah (dari A sampai Z), Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin ‘Abdir Razzaq

Add comment 6 September 2007

The Time is Coming

Saat itu hampir tiba
Kami berdua
Anak-anak muda bermodal semangat semata,
Bekal ilmu? harta?
Dua hal yang belum kami miliki nampaknya

Ada apa?

InsyaAllah dalam beberapa hari
Tidak lama lagi
Di hadapan dia
Di hadapan orang tuanya
Di hadapan dua orang saksi
Saya akan berikrar, berjanji, menerima

Untuk apa?

Bahwa mulai hari itu
Tanggung jawab ada di pundak saya
Mendidik dan mengajar ketaatan
Memberi makan, pakaian dan kediaman
Bersikap lemah lembut
Bukankah dia dari tulang rusuk yang bengkok?

Mengapa?

Ya, mulai hari itu saya adalah suaminya
Dan dia istri saya

Lalu?

Mohon doa dari teman-teman
Kiranya Allah memberi keberkahan
Pada kami dan yang ada pada diri kami
Dan mengumpulkan kami dalam kebaikan
Aamiin

- – - – - – - – - – - – - – - – - – - – - -
Tidak lama lagi
Pekan kedua di bulan Sya’ban :D :D :D

2 comments 20 August 2007

something delicious

Saatnya berkemas dan bersiap. Apalagi yang lebih siip untuk mengisi liburan kuliah selama dua minggu selain pulang kampung bagi bujang lapuk macam saya? Mumpung masih gampang dan ngirit, rasanya sayang sekali jika liburan tidak ketemu emak dan bapak. Toh dari Jakarta ke rumah hanya setiduran saja. Sore naik bis atau kereta, tinggal tidur dan tahu-tahu pagi sudah sampai ke rumah.

Dan menghitung hari-hari terakhir menjelang pulang, tanda-tanda kalau sudah tidak betah di sini mulai nampak. Indikasi utama hilangnya selera makan, rasanya kok tidak ada makanan yang enak, tidak ada yang mak nyuss. Biasanya pantang untuk menyisakan nasi walau sebutir, kali ini berasa pahit dan hambar. Warung Padang rasa Tegal yang terkenal lezat itu, sudah tidak menggugah selera lagi. Alamat sudah tidak sabar ingin menikmati masakan bikinan emak.

Emak saya bukanlah ahli masak kelas wahid layaknya chief hotel atau restoran yang bisa dan biasa memasak makanan yang katanya berkelas dan pasti mahal itu. Masakan bikinan emak sederhana dan murah meriah saja. Maklumlah keluarga kami bukan orang berada. Kala itu belum tentu tiap dua minggu kami sekeluarga berlauk daging. Hanya ketika beroleh kenduri atau makan siang rapat dari kantor bapak yang dibawa pulang, bolehlah kami makan layaknya orang kaya. Atau ketika ayam kami si Burik mulai jarang pulang kandang, itulah saatnya bapak mengasah pisau dan selama beberapa hari kami akan berlauk daging ayam. Walau begitu emak tahu bahwa anak-anaknya memerlukan makanan bergizi. Biar anaknya pintar dan sehat, begitu nasihat bu Bidan di Posyandu. Toh yang bergizi belum tentu mahal bukan.

Menu sarapan biasanya nasi urap dengan sambal kelapa, kadangkala sayuran disajikan mentah saja, trancam namanya kalau di tempat kami. Atau sesekali emak membuat nasi pecel. Cukup berlauk sebutir telur rebus (atau terkadang sebutir berdua) yang dikukus bersama nasi, atau dengan lauk tempe goreng tepung. Paling nikmat ketika tempe yang digoreng belum jadi betul, kedelainya belum terfermentasikan dengan sempurna, belum rekat benar jaringannya, masih mudah lepas, kedelainya masih mrithil. Pun dalam balutan tepung goreng yang gurih dan crispy. Pokoknya mak nyuss.

Emak saya wanita pekerja. Beliau mengajar di sebuah sekolah dasar di kampung saya dan biasanya sekitar jam 12 siang sudah sampai di rumah. Pulang kerja bukan berarti bisa langsung istirahat. Kali ini arena kerja berpindah ke dapur, maklumlah di rumah kami tidak ada pembantu. Dan hampir jam 2, ketika bapak dan anak-anak sudah pulang, makan siang sudah tersaji di meja makan. Ini dia menunya: sayur berkuah bening macam sop, sayur bening bayam, atau menu spesial sayur bening kacang panjang dengan irisan cabe hijau dan belimbing wuluh. Ditemani dengan ikan pindang goreng (gereh besek), kadang kalau ada rezeki lebih naik kelas ke ikan bandeng. Lebih sedap dengan sambal tomat yang red hot.

Untuk makan malam biasanya tak jauh beda dengan menu siang. Hanya tinggal dihangatkan saja. Atau sesekali di awal bulan, turun ke kota membeli tambahan lauk untuk perbaikan gizi.

Beruntunglah kami bisa sering makan bersama. Jadwal sekolah dan kantor yang tak jauh berbeda, sonder kemacetan di jalan, membuat kami bisa sampai di rumah pada saat yang hampir bersamaan. Obrolan hangat sesudah makan malam membuat kami enggan bersegera meninggalkan meja. Suasana yang benar-benar membuat saya rindu. Hal yang tidak saya jumpai di rantau. Saya kira rahasianya adalah emak menambahkan bumbu spesial pada masakannya yang bisa membuat orang merasa bahagia. Bumbu cinta. Hayah… kebanyakan nonton serial Born to Cook.

Add comment 4 June 2007

a friend or a foe

dulu sekali, sering kita duduk berdampingan, mengisi waktu hanya berdua saja

dengan obrolan penting atau yang kadang tak bermakna, berbagi duka atau canda

menyusun angan dan harapan tentang kehidupan esok hari,

dan di beranda rumah di malam itu, kembali kita duduk berjejeran

selewat beberapa tahun telah berganti

tetapi mengapa kebersamaan kita tak lagi serupa dulu

ketika isi kepala tak lagi sama

ketika yang kau senangi adalah yang kubenci

ketika yang berarti bagiku tak bermakna bagimu

ketika penuh perselisihan tentang salah atau benar

segera kusadari bahwa jalan yang kita tempuh tak lagi sama

bahwa takdir yang kaupilih dan kupilih adalah berbeda

dan itu membuatku sakit, sakit sekali

aku takut jika jalan itu menyesatkanmu, membawamu kepada kegelapan abadi

dingin gelap, tanpa kehangatan cahaya, berujung celaka

atau ketika suatu hari harus bertarung mengadu nyawa demi membela jalan kita

tanpa ragu kau tebaskan pedangmu padaku dan aku membalasnya

mengapa aku harus ragu dengan jalanku dan mengikuti jalanmu

ketika telah datang sebagian ilmu yang tidak datang padamu

ilmu yang menunjukkan padaku jalan yang lurus

ah, semoga suatu saat kita bertemu di sebuah persimpangan

dan kembali berjalan bersama

selalu doaku menyertaimu

semoga keselamatan dan kebaikan atasmu

bukankah kita masih tetap berkawan?

1 comment 19 March 2007

Pertemuan Jodoh

Semakin bertambah tua dan bau tanah, semakin saya yakin bahwa yang namanya urusan jodoh itu benar-benar kekuasan Allah. Manusia boleh (wajib) berusaha, namun akhirnya Allah jua yang menentukan hasilnya. Begitu juga urusan hati. Yang namanya hati, yang diterjemahan dari bahasa arab ‘qalbun’ itu dari sononya memang berarti sesuatu yang gampang berbolak-balik. Dan yang mampu membolak-balikkan hati siapa lagi kalu bukan yang menciptakan manusia. Makanya tidak perlu heran jika hati kita kemarin merah, hari ini sudah jadi kuning (sakit kuning ???). Atau hari ini maunya dengan si A, bisa saja besok sudah tidak berminat dengan si A, penginnya dengan si B.

Tidak hanya dalam urusan beginian. Dalam urusan yang lebih besar, dalam urusan agama kita diajarkan untuk sering berdoa agar diberi ketetapan hati untuk bisa teguh di dalam agama yang telah Allah turunkan.
Yaa muqallibal qulub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika
Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu. (Hadist Riwayat at-Tirmidzi, Ahmad dan al-Hakim dishahihkan oleh adz-Dzahabi)

Jadi sedikit kepikiran. Beberapa tahun terakhir di negeri ini sedang populer yang namanya pengajian, seminar, ceramah atau buku-buku yang temanya Manajemen Qalbu. Padahal manusia itu tidak bisa berkuasa atas hatinya sendiri, lantas apa yang mau di-manage? Beda urusannya kalau masalah uang. Sampeyan bisa berkuasa atasnya. Mau dibelanjakan silakan, untuk modal usaha monggo saja, atau sampeyan mau berbaik hati membaginya dengan saya :D atau lebih baik lagi untuk sampeyan sedekahkan. Tapi sepertinya kok saya memberikan misal yang ndak pas ya. Lha wong nyatanya orang-orang sekarang justru dikuasai uang alias duit. Mau melakukan apa saja demi duit. Ndak peduli halal haram pokoknya sikat habis. Ah namanya juga mabuk duit.

Kembali ke masalah jodoh, sampeyan pernah menyimak kisah Mas Joko? Ceritanya Mas Joko ini di zaman mudanya pernah jatuh hati kepada Mbak Ayu. Bagai sendok ketemu garpu, bagai bantal ketemu guling, bisa klop gitu. Mbak Ayu berkenan menerima hati Mas Joko yang jatuh. Hingga akhirnya mereka berdua sepakat pacaran. Rantang-runtung, wira-wiri, kesana-kemari semenjak zaman SMA, berlanjut sampai masa kuliah, hingga sampai lulus kuliah. Sampai-sampai sepenjuru pelosok kampung orang-orang sudah mafhum jika mereka berdua akan menikah. Ditunggu-tunggu kok undangan walimahnya ndak disebar-sebar. Eh lha kok tahu-tahu malah ada undangan pernikahan Mbak Ayu dengan teman kerjanya. Batal menikah dengan Mas Joko. Padahal setahu saya sudah ada enam tahun mereka pacaran. Nyatanya pacaran lama ndak jaminan bakal berlanjut ke rumah tangga.

Saya sendiri yang sampai setua ini belum pernah pacaran, bisa membayangkan bagaimana perasaan Mas Joko. Sekian lama pacaran tentunya mengorbankan banyak waktu, tenaga dan biaya, atau urusan lain yang mungkin lebih penting yang dikorbankan demi pacaran. Nyatanya pengorbanan itu masih belum cukup, di akhirnya masih harus korban perasaan. Bagi yang pikirannya cupet bin sempit ditambahi bisikan setan yang terkutuk, kondisi ini bisa mendorong untuk berbuat kriminal atau bunuh diri misalnya. Yang lebih celaka lagi kalau sampai nekat berbuat syirik dengan datang ke dukun. Wis bisa jadi penghuni neraka tenan ini.

Lalu Mbak Ayu sendiri, sekian lama berinteraksi dengan Mas Joko, tentunya mengetahui apa-apa yang menjadi kebaikan dan keburukan Mas Joko. Lha kalau nanti pada diri suaminya tidak diketemukan sisi-sisi kebaikan seperti yang ada pada diri Mas Joko (manusia tentu berlebih kurang di setiap sisi-sisi hidupnya), apa si Mbak ini nanti ndak kepikiran terus sama Mas Joko? Apa ndak kasihan suaminya, orang yang berada di sisinya tapi pikirannya ke lelaki lain.

Ah tapi itu kan hanya reka-reka bayangan saya saja. Semoga tidak terjadi dan tidak pernah terjadi.

Belum lagi melihat gaya pacaran anak zaman sekarang. Mengerikan. Berdua-duaan di tempat yang sepi, pandang-pandangan, berpegangan tangan, dan seterusnya, dan seterusnya sampai akhirnya melakukan sesuatu yang lebih haram lagi. Melakukan kesalahan yang ndak lebih dari lima menit yang akhirnya harus menanggung penyesalan seumur hidup. Kalau sudah begini siapa lagi yang hendak disalahkan. Yang namanya lelaki layaknya emas, jika kecemplung got diusap sedikit sudah bisa mengkilap lagi. Kalau perempuan, bayangkan saja sekuntum melati putih yang kecemplung got. Setelah diangkat jadi lecek, kotor dan bau. Susah laku lagi.

( insyaAllah masih ade sambungannye )

2 comments 19 January 2007

Pindahan

Awal bulan ini saya menempati rumah (kost) baru. Seingat saya ini adalah kost keenam yang pernah saya tinggali. Tiada alasan selain terkait rencana pulang kampus itu. Setelah mempertimbangkan dari segi biaya, waktu, dan rasa capek yang akan saya alami, nampaknya bukan pilihan yang tepat jika saya memaksakan diri untuk pulang balik dari pondok kecil pinggir kali itu. Wilayah selatan Jakarta di kampus saya terkenal macet pada jam berangkat dan pulang kerja. Satu jam di jalanan Jakarta yang macet sudah cukup untuk menghasilkan rasa capek dan stress yang menyiksa. Bisa kurus kering saya nantinya.

Aha, kebetulan sekali ketika pindahan kemarin, saya beroleh bantuan dari Pak Driver. Dengan Suzuki Elf yang biasa beliau kendarai, cukup sekali jalan untuk mengangkut barang saya yang tidak seberapa. Harta  saya yang terbanyak dan tersayang ya beberapa kardus buku dan majalah itu. Selebihnya hanya beberapa potong baju dan peralatan elektronik. Maklum masih miskin.

Nyatanya pindahan rumah benar-benar menghabiskan waktu, biaya dan tenaga. Setidaknya seminggu sebelumnya, saya sudah memulai mengepak barang yang akan dibawa. Sedapat mungkin semua bisa terbawa. Sepadat mungkin dimasukkan ke dalam kardus, sehingga tidak banyak kardus yang dibutuhkan, tidak banyak memakan tempat, compact mode. Saya hanya membayangkan betapa repotnya acara pindahan bagi yang sudah berkeluarga. Tentunya banyak sekali barang yang sudah mereka miliki. Apalagi jika sampai membutuhkan truk untuk mengangkutnya. Belum mengurus pemindahan sekolah anak misalnya. Atau mengurus dokumen administrasi macam KTP, KK, SIM dan tetek bengek lainnya. Atau bahkan jika pindahannya ke luar daerah, ke luar pulau, tentunya semakin besar pula waktu, biaya dan tenaga yang dihabiskan.

Awal tahun ini pula beberapa kawan berolehtempat kerja baru. Dan nampaknya saya lebih beruntung dari mereka. Banyak dari mereka yang diharuskan keluar dari Jawa dari ujung barat sampai ke ujung timur Indonesia. Seorang kawan kini bekerja di Merauke. Anak-anak muda itu harus jauh dari kampung halaman, jauh dari orang tua, berpetualang di pelosok-pelosok Indonesia, sampai ke kota-kota yang namanya saja baru pertama kali ini saya dengar. Semoga mereka betah di sana. Soalnya dengar-dengar setidaknya sampai lima tahun baru mereka bisa pindah lagi ke tempat lain.

Tentunya saya akan merindukan pondok kecil pinggir kali itu. Masa tiga tahun di sana telah cukup membuat saya merasakan manis dan pahitnya tinggal di tengah kota Jakarta. InsyaAlloh akan saya usahakan untuk sesekali berkunjung. Hubungan baik dengan beberapa kawan dan tetangga di sana  sayang kalau diputus begitu saja.

Doakan saya pula jika nanti pindah rumah lagi, pindahnya bisa naik kelas ke rumah kontrakan atau rumah pribadi. Aamiin.

1 comment 15 January 2007

Teliti Sebelum Membeli

Kira-kira sebulan yang lalu, seorang kawan, sebut saja Mas A, memperoleh informasi penawaran kavling tanah di daerah Jatimakmur, Pondokgede, dan kemudian meneruskannya kepada saya. Mas A ini kawan saya sesama kontraktor(penghuni kontrakan), yang kami ini berduit cekak, berkeliling ke pelosok-pelosok  Jabotebek, mencari kavlingan atau perumahan murah. Ajakan Mas A saya sambut antusias. Setelah beberapa kali hunting bersama, daerah Jatimakmur adalah daerah yang paling dekat dengan tempat kerja kami, kira-kira sekitar 25 km. Dari pasar Pondokgede, hanya sekitar 3 km ke arah tol Jatiasih. Harga yang ditawarkanpun cukup murah, hanya Rp 225 ribu/meter. Itupun masih bisa dicicil sampai 4 tahun. Penawaran yang cukup menarik.

Ketika melihat langsung ke lokasinya, saya terkesan. Daerah yang aman dari banjir, bukan bekas persawahan, lahan yang siap bangun, dekat kompleks perumahan, akses jalan, dan jaminan bahwa tanah tersebut bebas sengketa. Terlebih pula hampir semua lahan kavling tersebut telah terjual, membuat semakin yakin untuk membeli. Kami merencanakan untuk mengambil masing-masing 150 m². Dengan total biaya hampir 35 juta dan waktu pelunasan sampai 4 tahun saya anggap tidak terlalu memberatkan.

Dua minggu yang lalu, kami merencanakan untuk datang ke pengembang kavling tersebut untuk pembicaraan lebih lanjut. Ketika survei lokasi minggu sebelumnya, kami hanya bertemu penunggu kavling. Qadarullah saya tidak bisa datang, maka saya nitip diwakili Mas A. Pada pertemuan itu, disepakati untuk pembayaran uang muka sebesar 5 juta dan diserahkan minggu depannya. Mas A sempat memberikan beberapa ratus ribu sebagai tanda jadi.

Minggu lalu, sebagaimana kesepakatan sebelumnya, berangkat dari kost dengan hati riang, penuh harapan bahwa akhirnya mendapat tempat untuk membangun gubug :) Sempat menunggu Mas A setengah jam lebih di tempat janjian ketemu. Ternyata Mas A ini mengajak seorang teman, sebut saja Mas A2 yang juga tertarik ikut mengambil kavlingan. Kami bertiga mampir dulu ke lokasi kavlingan sebelum ke tempat tuan tanah itu. Menemani Mas A2 melihat tempatnya. Dan tampaknya Mas A2 juga berminat. Nah, pada waktu itu kebetulan Mas A menyempatkan diri berkunjung ke ‘calon tetangga’ mencari informasi tambahan tentang kondisi disana. Dan tak disangka, lha kok kami malah disarankan untuk membatalkan niatan membeli kavlingan itu. Menurutnya tanah yang dijual oleh tuan tanah itu bukan milik si tuan ini, tapi tanah milik Yayasan TMII ! Ketika kemudian kami meminta informasi lebih jelas ke Ketua RW setempat kami memperoleh jawaban yang sama.

Sama sekali kami tidak menyangka kalau masalahnya jadi seperti ini. Nyaris saja kami kena tipu. Dengan status tanah yang seperti ini tentu saja kami tidak akan pernah memperoleh dokumen kepemilikan tanah yang sah. Artinya statusnya sama saja dengan penghuni liar atau penyerobot tanah. Masih menurut bapak ‘calon tetangga’, yang tertipu masalah tanah itu sudah banyak. Bahkan sampai rumahnya sudah selesai dibangun. Beberapa diantara mereka akhirnya menjual murah rumahnya. Alhamdulillah kok ya kami masih diberi perlindungan. Punya tabungan yang ndak seberapa banyak itu hampir saja disikat orang.

Maka dari itu jika sampeyan hendak membeli rumah atau tanah berhati-hatilah. Jangan lupa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari ‘calon-calon tetangga’ sampeyan. Jangan sampai sampeyan tertipu.

5 comments 26 December 2006

Pondok Kecil Pinggir Kali

Hampir genap tiga tahun saya tinggal di pondok kecil pinggir kali ini. Seingat saya ini adalah kost yang paling lama saya tinggali. Dengan segala plus minusnya ternyata saya betah menempatinya. Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar.

Saya tidak tahu apakah saya pantas berbangga atau tidak. Kalau Bu Nurani berbangga karena rumahnya di tepi sungai Thames, maka pondok kecil saya ini cuma 5 meter dari kali Ciliwung. Ah mungkin tidak tepat jika dinamakan kali. Dinamai comberan sepertinya lebih pas. Selain warnanya sering berubah menjadi hitam pekat, kadang timbul bau yang sungguh membuat perut mual. Membandingkan kondisi kali ini sekarang dengan zamannya JP Coen dulu sungguh membuat iri. Menurut Pak Alwi Shahab dalam bukunya “Betawi Queen of the East”, Kali Ciliwung dulu airnya bersih dan deras. Kesadaran menjaga lingkungan orang Jakarta saat ini memang sangat buruk. Setahu saya, di daerah Cilebut Bogor, airnya masih cukup bersih dan deras. Entah mulai dari mana kali ini menjadi penuh sampah dan limbah.

Mungkin tepat pula jika saya menganggapnya sebagai suaka margasatwa. Di bantaran kali itu saya justru menyaksikan hewan-hewan yang bahkan di kampung halamanpun sudah langka ditemukan. Biawak dan beberapa jenis burung adalah anggota komunitas ini. Paling menyenangkan ketika membuka pintu kamar di pagi hari disambut segarnya udara  dan sahut suara burung. Damai dan menenteramkan. Beberapa jenis yang saya kenal dari burung-burung itu adalah terutu, kutilang, prenjak dan ciblek (sungguh sama sekali tidak setuju jika nama burung mungil bersuara emas ini dikonotasikan dengan remaji nakal). Bird watching ditemani segelas teh manis menjadi kegiatan yang menarik di pagi hari.

Pun tinggal di sini keamanan terjamin. Di malam hari si bebek besi itu hanya saya parkirkan di teras rumah saja, tanpa kunci pengaman tambahan. Saya anggap ini sudah cukup menjadi bukti. Betapa tidak, jika dalam 24 jam sehari kompleks perumahan dijaga. Bukan oleh satpam, tapi oleh anggota TNI ber-AK47, atau minimal ber-SS1. Mengapa tidak, lha wong pondokan kecil ini di dalam kompleks TNI AD :D . Pencuri jahil pun akan berpikir berkali lipat jika  berbisnis disini. Ya, keamanan adalah sesuatu yang sangat penting jika anda tinggal di Jakarta. Saatnya saya menyombongkan diri sama sampeyan. Apa sampeyan kuat membiayai anggota TNI untuk menjaga rumah sampeyan?

Masjid? Tentu saja ada. Lima kali dalam sehari adzan dikumandangkan, selalu ada jamaah shalat wajib. Bersih, nyaman, tenang dan cukup luas, malahan kini dilengkapi dengan pendingin ruangan. mBah Otong, perawat masjid bisa diandalkan. Kinerjanya benar-benar exelent. Di sini pula kesempatan untuk bertemu dengan tetangga atau sesama anak kost. Ngobrol dulu seusai shalat sebelum pulang ke kost. Kadang di hari libur di siang yang terik, saya membawa buku kesana. Atau kadang-kadang (ah sebenarnya terlalu sering untuk disebut kadang-kadang) numpang tidur siang. :D Habis nyaman sih.

Dari tadi membanggakan bagusnya saja, lalu apa jeleknya? Ya ndak akan saya ceritakan dong. Tidak lucu namanya kalau sedang menyombongkan sesuatu kemudian mengungkapkan kekurangannya. Kalau sampeyan mau tahu silakan datang saja ke sini.

3 comments 11 December 2006

a sidewalk walker

sudah hampir lupa kapan saya terakhir melalui trotoar itu. lebih dari dua tahun tiap pagi petang saya melewatinya. jalan kaki butuh waktu sekitar 20 menit dari pondokan kecil saya sampai ke gedung tua tempat saya duduk seharian. cukup untuk membuat tubuh berkeringat. dan hasilnya selama dua tahun itu perut saya masih langsing :D . itu sebelum saya ditemani bmw (bebex merah warnanya) yang baru saja berulang tahun ke -10 itu. bagi pejalan kaki saya anggap trotoar itu cukup bersahabat. lebar, bersih dan rapi. juga terbebas dari pedagang KQ – 5. betapa tidak, lha wong trotoar di depan kantor ini dan hotel itu. bagi yang nekat ada polisi PP yang rajin berpatroli.

trotoar di depan kantor ini, awalnya dibuat dari susunan paving block. trotoar selebar 2 m dengan jajaran bunga bakung sebagai pembatas dengan jalan raya. namun kini semenjak dibangun busway,susunan paving block telah tergantikan dengan lantai cor dengan pembatas pagar kawat di tepinya. lebih bersih dan kokoh.

tetapi trotoar di depan hotel itu masih belum berubah. trotoar yang lebih lebar, seolah melewati lorong di bawah naunagan pohon asam rimbun. di ketinggian dahannya kadang ada serombongan burung nuri yang hinggap. kadangkala ada juga manusia yang hinggap di situ. sedang memetik buah asam maksud saya :D . entah sejak kapan pohon itu ditanam. berat sangka saya bahwa pohon ini ditanam bersamaan dengan pembangunan istana deandels yang sekarang dipakai kantor departemen keuangan itu.

dari ritual pagi petang itu banyak manfaat yang bisa saya petik. saya jadi rajin mandi dan berangkat pagi. soalnya jika agak siang berangkatnya, selain sudah mulai panas jalanan juga sudah ramai. huh, paling benci kalau sedang lewat disembur sama asap hitam bus kota dan pekak telinga akibat suara bajaj. sampai hafal juga dengan orang-orang yang biasa lewat di situ. bapak-bapak dan ibu-ibu yang bekerja di departemen ini, mbak-mbak yang di bank itu, atau mbah-mbah yang suka duduk di bawah pohon asem. pernah suatu ketika bertemu dengan teman semasa sma yang sedang magang di kantor juragan BBM itu. jika sedang sehat dan waras disempatkan juga untuk mengulang hafalan Al Quran atau Hadist.

tetapi semenjak beberapa bulan lalu saya memutuskan untuk menjadikan bmw itu sebagai kawan karib saya, ritual pagi itu jarang saya lakukan. pagi ini seorang kawan yang sudi mampir ke pondok kecil saya mengajak untuk jalan kaki di trotoar itu. ajakan bagus yang saya sambut dengan riang hati.

2 comments 4 December 2006

Pulang Kampus

setelah berpetualang selama tiga tahun lebih, akhirnya saya pulang kampus. kembali ke sekolah tempat saya dulu menuntut ilmu. kembali ke kompleks gedung yang terletak di selatan jakarta itu. meneruskan kembali studi yang belum usai. menghabiskan hari-hari di ruang kelas yang mejanya pernah saya corat-coret itu. he..he.. vandalisme memang kerap muncul jikalau tubuh dan pikiran sedang tidak beres. kesempatan baik untuk mengenang kembali romantisme masa lalu :p.

dan minggu lalu saya datang kesana untuk registrasi. jajaran gedung produk 80-an itu masih sama, belum berubah. sepanjang selasar hilir mudik bertemu dengan mahasiswa dengan model pakaian yang sama. baju polos cerah dengan setelan celana warna gelap. kebijakan dari sekolah tidak menetapkan seragam khusus, tapi menetapkan model yang sama untuk seluruh mahasiswa. dan bahasa kampus itu belum juga berubah. I heard javanesse was spoken everywhere. ya, bahasa nasional kampus kami adalah bahasa jawa. suasana yang mebuat saya betah di sana.

aha, ada yang baru rupanya di sana. kini di samping arena panjat dinding itu telah dibangun kafetaria. dulunya di situ ada kolam yang ditumbuhi enceng tempat berkubang kerbau. ya, kampus kami memang unik. ada kerbau masuk kampus, kambing masuk kampus juga ada, banyak malah. dan di ujung kolam sana ada tembok pagar kampus. di seberang tembok pagar itu saya tinggal. di rumah berhalaman luas yang ditumbuhi pohon rambutan besar. maaf ibu, lebaran ini saya belum bisa berkunjung :d.

bagaimanapun juga tawaran sekolah tanpa biaya benar-benar membuat saya tergoda. yah saya tahu konsekuensinya. artinya kontrak saya akan diperpanjang menjadi 15 tahun. dan sampai sekarang baru 3 tahun yang telah saya jalani.

kawan, doakan saya agar bisa melalui 2 tahun perjuangan di sana. jika sempat silakan mampir ke kampus saya. ada warung soto solo yang lumayan enak, kita bisa ngobrol banyak disana.

1 comment 1 December 2006


abiyar

male, moslem, at twenty something, student, live in Jakarta, wandering the world to find the knowledge.

father said

" dearest son, have the knowledge before you talk, before you act. all you said, all you did, have the responsibilities in the hereafter."

Recent Posts

Archives

Kajian Islam

Pertemanan

Feeds

Friends Visit